“Setara untuk Semua”: Workshop Inklusi PNF Bantul Perkuat Layanan Ramah Anak Berkebutuhan Khusus

DIKPORABANTULNEWS - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul menyelesaikan Workshop Inklusi Pendidikan Nonformal Tahun 2026 bagi pengelola, pendidik, dan tenaga kependidikan PKBM serta SKB se-Kabupaten Bantul. Kegiatan berlangsung 30 September–1 Oktober 2026 di Aula SKB Bantul, Semail, Bangunharjo, Sewon, Bantul, dengan tema “Setara untuk Semua: Mewujudkan PKBM & SKB Ramah Anak Berkebutuhan Khusus”.

 

Workshop diselenggarakan untuk memperkuat penyelenggaraan pendidikan yang setara, ramah, dan nondiskriminatif bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola dan pendidik pada satuan Pendidikan Nonformal.

 

Setara Bukan Berarti Semua Anak Diperlakukan Sama

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Seksi Kelembagaan, Sarana Prasarana, dan Peserta Didik menekankan bahwa workshop merupakan bagian dari penguatan komitmen kemanusiaan dalam pendidikan.

 

“Kita berkumpul pada hari ini bukan semata-mata untuk mengikuti sebuah kegiatan kedinasan. Lebih dari itu, kita sedang memperkuat sebuah komitmen kemanusiaan dalam pendidikan.”

 

“Setara berarti setiap anak memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang, dihargai, dan didukung sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.”

 

“Apa yang dapat kita lakukan agar sistem pembelajaran kita mampu memberikan ruang bagi anak ini untuk berkembang?”

 

Sambutan juga mengajak satuan PNF memandang PKBM dan SKB sebagai ruang tempat anak dan warga belajar memperoleh kesempatan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan potensi, dan menyiapkan masa depan.

 

Dari Identifikasi hingga Program Pembelajaran Individual

Narasumber workshop, Drs. Aris Widodo, M.Pd., Dosen PLB Universitas PGRI Yogyakarta, membawakan materi kebijakan dan SOP pendidikan inklusi, identifikasi dan asesmen peserta didik, praktik identifikasi, serta praktik penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) melalui studi kasus.

“Lakukan identifikasi pada semua anak.”

“Lakukan asesmen pada siswa yang diduga berkebutuhan khusus.”

“Ketemu profilnya, kelebihan, kekurangan, dll.”

“Susun adaptasi kurikulumnya.”

“Kita perlu bantuan ahli profesional untuk mengetahui kebutuhan khususnya.”

 

Materi Aris Widodo menempatkan identifikasi, asesmen, profil belajar siswa, adaptasi kurikulum, dan PPI sebagai rangkaian penting dalam memberikan layanan yang sesuai kebutuhan peserta didik.

 

Memahami Disabilitas Intelektual dan Strategi Pembelajaran

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai disabilitas intelektual, termasuk fungsi adaptif pada area konseptual, sosial, dan keterampilan praktis. Materi menekankan pentingnya asesmen untuk mengetahui kebutuhan peserta didik serta strategi pembelajaran yang sistematis, kontekstual, responsif, dan memanfaatkan teknologi.

“Penamaan jenis kebutuhan khusus/disabilitas lebih digunakan untuk keperluan identifikasi, kategorisasi, dan intervensi secara ilmiah.”

“Panggil nama mereka dengan nama yang diberikan orang tuanya.”

 

Praktik Menjadi Bagian Penting Workshop

Kegiatan tidak berhenti pada paparan materi. Pada hari pertama peserta melakukan praktik identifikasi dan presentasi hasil. Pada hari kedua peserta mengikuti review, praktik PPI berbasis studi kasus, serta presentasi kelompok. Rangkaian ini memberi kesempatan peserta untuk menerapkan konsep ke dalam contoh permasalahan pembelajaran.

 

Dalam bahan PPI, Program Pembelajaran Individual dijelaskan sebagai perencanaan kegiatan pembelajaran tertulis untuk memenuhi kebutuhan khusus peserta didik. Penyusunannya memerlukan data asesmen kemampuan dan prestasi, deskripsi kondisi dan potensi, tujuan, program intervensi, implementasi, review, dan perbaikan program.

 

Membawa Pulang Pemahaman, Keterampilan, dan Komitmen

“Jangan pulang hanya membawa sertifikat. Pulanglah dengan membawa satu pemahaman baru, satu keterampilan baru, dan satu komitmen baru untuk memperbaiki layanan pendidikan di satuan masing-masing.”

 

“Saya akan mencoba memahami anak ini lebih dahulu, sebelum menilai anak ini.”

 

Melalui workshop ini, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul mendorong agar pemahaman mengenai pendidikan inklusi diterapkan dalam praktik layanan di satuan PNF, sehingga peserta didik memperoleh ruang belajar yang semakin terbuka, ramah, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan serta potensinya. (RAA)