Berita

Bersyukur , Motivasi dan Peningkatan Etos Kerja

Senin Kliwon, 4 Agustus 2014 10:32 WIB 2610

foto

Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri berasal dari bahasa Arab, yaitu fitrah yang berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam pandangan Islam, tidak dibebani dosa apapun, yang diibaratkan sehelai kertas putih.
Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti.
Idul Fitri merupakan momentum yang sangat baik untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal bihalal.
Fenomena halal bihalal ini telah menjadi tradisi di Tanah Air. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Makna halal bihalal mengandung pesan bahwa Islam adalah universal yang mengajarkan untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang sebagai agama yang rahmatan lil alamin.
Dalam perjalanan hidup manusia sudah digariskan tidak akan luput dari berbuat dosa dan kesalahan. Sebab itu, perlu upaya mengembalikan lagi pada kondisi sebagaimana mulanya, dimana manusia ketika dilahirkan adalah suci atau fitrah. Itulah makna Idul Fitri.
Dosa yang kerap dilakukan umat adalah kesalahan terhadap sesamanya dalam interaksi sosialnya. Seorang manusia dapat menyimpan rasa permusuhan, dengki, iri hati dan saling menyakiti, hingga bunuh-membunuh.
Oleh sebab itu, Idul Fitri yang diawali dengan puasa sebulan penuh sebagai pembersihan jiwa bagi umat Islam yang beriman dari dosa menjadi momen penting untuk saling memaafkan dalam koridor halal-bihalal.
Hidup rukun sangat diperlukan. Agama apapun di dunia, tak ada yang menganjurkan untuk hidup saling bermusuhan. Kerukunan, jika terwujud dalam masyarakat maka kehidupan ini akan damai tenteram dan indah.
“Kita semua tentu berharap tetunya lebih mempererat tali silaturrahmi, kekompakan, hidup rukun, rasa persatuan serta kesatuan diantara sesama. sehingga dapat menjadi spirit dan motivasi tersendiri agar kita dapat terus berkarya secara profesional dan berkinerja tinggi,” ujarnya.
Menurut dia, kerukunan juga sangat diperlukan supaya bisa bekerja dengan sungguh-sungguh dengan diiringi niat yang tulus dan iklas dalam menjalankan tugas masing-masing yang disebut dengan etos kerja.
“Kaitannya dengan etos kerja, apabila kita hidup rukun aman damai dan tentram maka etos kerja akan meningkat, dan yang tak kalah penting adalah kejujuran dan keterbukaan, dengan begitu pekerjaan tersebut dapat dipertangungjawabkan dan tanpa ada masalah dikemudian hari,” jelasnya.
Dijelaskan, dalam kehidupan beragama, beriman dan berislam, sewajarnya dan sewajibnya perkembangan, peningkatan dan perbaikan itu terjadi. Islam syariat yang baku, permanen tidak akan pernah berubah, tetapi pemeluknya, baik dalam memahami, mengimani dan mengamalkan Islam harus ada peningkatan.


PPDB

 /filestorage/berkas/2019/05/PPDB.jpg

Paskibraka 1

/filestorage/berkas/2019/05/

Paskibraka

/filestorage/berkas/2019/05/

FLS2N

/filestorage/berkas/2019/04/

Syawalan

/filestorage/berkas/2018/08/IMG_20180622_083324.jpg

DP Bantul

/filestorage/berkas/2018/02/IMG_4941.JPG

OOSN

 /filestorage/berkas/2016/07/12822f2a-cf4d-4bad-b12a-18e3ba183cff.jpg

dp2

/filestorage/berkas/2015/02/IMG_6673.JPG

Pengunjung
  • Pengunjung: 2001301
  • Online: 18
  • Hari ini: 264